Aku ingin bercerita tentang seorang teman, seorang sahabat, satu-satunya laki-laki yang bisa aku anggap sebagai sahabat. Namanya Ary, Mohammad Ary Wicaksono. Let me tell something about him.
Dia adalah seorang teman yang baik, seorang anak yang pintar, dan seorang muslim yang taat. Dilihat dari sisi penampilan juga, dia bukan orang yang tidak disukai kaum hawa pada umumnya. Bahkan, jujur saja, aku juga pernah menaruh hati padanya *kok jadi curhat?*. Sebagai teman, aku sangat beruntung punya teman seperti dia. Sejak mengenalnya, dia serasa menjadi motivasi buatku, motivasi untuk belajar, untuk jadi anak yang rajin, dan jadi seorang yang sholihah. Dia adalah guru yang menginspirasi. Kenapa guru? Karena dia mengajarkan aku banyak hal sejauh ini. Aku masih ingat waktu aku bingung sebingung-bingungnya ngerjakan tugas gambar perspektif, aku sudah tanya kemana-mana, minta diajarkan ke siapa saja yang bisa ngerjakan tugas itu, tapi nggak ada yang bisa membuat aku bener-bener ngerti cara menggambarnya selain temanku yang satu itu. Aku juga masih ingat gimana kita berusaha untuk bener-bener memahami materi dari dosen matematika waktu masih kelas satu.
Ada juga kenakalan kita yang masih aku inget, waktu bimbingan di fakultas MIPA Unair, dimana dosennya nerangin dengan sungguh-sungguh, aku, temanku itu, dan seorang teman lagi malah asik main bingo karena nggak mudeng sama sekali sama materinya (yang belakangan ini aku tahu itu materi yang aku dapet di matematika dasar semester I kuliahku).
Temanku itu, dia juga seorang pendengar yang baik. Aku bisa bercerita tentang banyak hal kepadanya. Tentang adik-adikku, tentang kebiasaan, bahkan tentang seseorang yang aku suka. Dia banyak memberi aku masukan dan nasehat-nasehat yang cukup berarti. Sebagai imbalan, aku juga sering mendengarkan cerita tentang dia, adiknya, kebiasaannya, dan seorang muslimah yang memikat hatinya. Kita juga saling memberi motivasi, bahkan sampai sehari sebelum sesuatu yang membuatnya berubah itu terjadi, kita masih saling bercanda.
Tapi, sejak peristiwa itu terjadi, aku seperti sudah kehilangan dia. Peristiwa itu seperti membuat dia terpisah dari kami, teman-temannya. Dingin dan acuh. Itu yang aku tangkap dari kata-kata di SMS darinya waktu aku menanyakan hasil ujian itu. Oke, saat itu aku setuju dengan pikiranku kalau dia sedang terpukul, aku sduah nggak lagi punya keberanian menanyakan hal-hal yang menyangkut masalah itu kepadanya. Sejak saat itu juga, nggak pernah ada SMS selain ucapan selamat ulang tahun, karena aku benar-benar nggak tega untuk memulai percakapan. Aku takut dia tersinggung, aku takut dia semakin merasa sedih dan tidak bersemangat. Sampai setahun berlalu, aku bertanya tentang kesiapannya ikut ujian lagi,cukup terkejut waktu dia bilang tidak akan ikkut ujian itu, tapi mencoba ber-positive thinking kalau dia ikut jalur masuk lain, atau sudah memiliki tempat untuk melanjutkan studinya. Tapi ternyata, aku Cuma berprasangka saja. Dia tidak melanjutkan studinya. Aku benar-benar sedih mengetahui kenyataan itu. Sedih, karena seorang teman terbaikku yang aku kira begitu tegar, ternyata sudah patah arang. Sedih, karena sumber motivasiku sudah tidak punya motivasi terhadap dirinya sendiri. Sedih, karena aku berharap dia tidak pernah seperti itu. Aku merasa semakin kehilangan sosoknya yang dulu, yang menjadi motivasi bagi teman-temannya, yang kami harap menjadi sosok hebat masa depan. Ternyata kalah dengan keadaan.
temanku, aku percaya kamu akan kembali menjadi seperti dulu lagi. kita semua merindukan kamu yang dulu. berjuanglah, temanku! semoga Allah mempermudah jalanmu.