Sunday, July 31, 2011

my little sista


dear, my little sista.. how are you today? ah~ you must be very happy everyday. how are the angels? are they funny? lol..
adekku tercinta, Wardah Khumairah. kenalkah kamu sama kakakmu ini? hehe.. kita memang nggak pernah ketemu dek. apalagi adek-adekmu yang lain, mereka cuma pernah denger cerita tentang kamu, cerita kalau kamu pernah menjadi harapan dan kebahagiaan ayah dan ibu, juga kebahagiaanku yang waktu itu pengen jadi seorang kakak.
adekku tercinta, kamu beruntung sekali.
Allah sangat mencintaimu sehingga kamu diambilnya terlebih dahulu, Allah nggak mau jiwamu ternodai oleh manisnya dunia. Allah menakdirkanmu untuk tidak berdosa, Allah menyayangimu, sayangku.
aku memang tidak tahu banyak tentang bidadari surga, tapi aku berharap, kamu adalah salah satu dari mereka. :)
seandainya kamu masih disini, kamu pasti sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang sholihah, kayak adekmu Ina. ah~ aku nggak mau berandai seperti itu. karena aku bersyukur kamu lebih bahagia disana.
adekku, terimakasih.
terimakasih karena telah menjadi pengingat untukku, mengingatkan aku akan kehidupanku di sana kelak. membuat aku lebih berhati-hati, dan menjadi motivasiku untuk berada di sana nanti, dekat denganmu.
terimakasih juga, karena kamu akan mempermudah jalan untuk ayah dan ibu menuju ke surga-Nya kelak.
hari ini kita semua berdoa untuk kamu. kita semua ingat kamu. kita semua sayang sama kamu. :) kalo bisa, kita nitip salam yaa buat mbah asfan, mbah usman, sama mbah um.. :)

Friday, July 22, 2011

dibalik rasa syukur

hampir semua nilai-nilai mata kuliah semester dua ini udah keluar. ini nih yang mbuat aku pengen menuliskan sesuatu.

ada berbagai macam ekspresi yang ditunjukkan sama teman-teman ketika baru melihat nilainya. ada yang senang, ada yang sedih, ada yang biasa aja (setidaknya itu yang kelihatan dari muka mereka), ada yang merasa frustasi dan berpikir kalau dia salah jurusan, ada yang memang merasa belum ujian kalo belum UP (ujian perbaikan.red), ada juga yang bisa bersyukur dengan sungguh-sungguh meskipun nilainya gak terlalu baik.

naah, yang terakhir ini yang pengen aku bicarain. bersyukur. kalo menurut Firman Allah dalam Al-Qur'an, kita sebagai hambaNya memang harus selalu bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikanNya kepada kita. ada baaanyaaak sekali nikmat itu, mulai dari sebuah sel yang hidup dalam diri kita, nikmat yang lumayan besar yang bisa berupa kesehatan, kecukupan rezeki, nilai yang bagus, sampai nikmat yang paling besar yang kita dapatkan adalah nikmat hidup sebagai seorang Muslim. alankah kurang ajarnya kalau kita tidak bisa mensyukuri nikmat itu. tapi, sampai sejauh mana batasan mengenai rasa syukur itu?

sebagai contoh, aku kasih cerita tentang temenku yang sangat bersyukur meskipun nilai yang diterimanya kurang bagus. oke, itu adalah hal yang sangat baik. tapi, kalo menurut saya, kita nggak cuma harus bersyukur saja ketika mendapatkan hal yang kurang baik seperti tadi, bersyukur memang harus, tapi kita nggak akan bisa maju kalau hanya bersyukur dan puas atau bahkan pasrah sama hasil kurang baik yang kita terima. kita juga harus ingat kalau Allah tidak merubah nasib suatu kaum kalau kaum itu tidak mau merubah nasibnya sendiri. jadi, bersyukurlah terhadap apapun yang kamu terima sebagai hasil usahamu, tapi, jangan pernah puas terhadap hasil yang sudah kamu capai, tetaplah berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, berusaha merubah nasibmu menjadi lebih baik, dan semoga Allah meridhoi usahamu, sehingga Dia benar-benar merubah nasibmu menjdai lebih baik. Cheer Up! :)

Wednesday, July 20, 2011

tentang temanku, sahabatku.

Aku ingin bercerita tentang seorang teman, seorang sahabat, satu-satunya laki-laki yang bisa aku anggap sebagai sahabat. Namanya Ary, Mohammad Ary Wicaksono. Let me tell something about him.
Dia adalah seorang teman yang baik, seorang anak yang pintar, dan seorang muslim yang taat. Dilihat dari sisi penampilan juga, dia bukan orang yang tidak disukai kaum hawa pada umumnya. Bahkan, jujur saja, aku juga pernah menaruh hati padanya *kok jadi curhat?*. Sebagai teman, aku sangat beruntung punya teman seperti dia. Sejak mengenalnya, dia serasa menjadi motivasi buatku, motivasi untuk belajar, untuk jadi anak yang rajin, dan jadi seorang yang sholihah. Dia adalah guru yang menginspirasi. Kenapa guru? Karena dia mengajarkan aku banyak hal sejauh ini. Aku masih ingat waktu aku bingung sebingung-bingungnya ngerjakan tugas gambar perspektif, aku sudah tanya kemana-mana, minta diajarkan ke siapa saja yang bisa ngerjakan tugas itu, tapi nggak ada yang bisa membuat aku bener-bener ngerti cara menggambarnya selain temanku yang satu itu. Aku juga masih ingat gimana kita berusaha untuk bener-bener memahami materi dari dosen matematika waktu masih kelas satu.
Ada juga kenakalan kita yang masih aku inget, waktu bimbingan di fakultas MIPA Unair, dimana dosennya nerangin dengan sungguh-sungguh, aku, temanku itu, dan seorang teman lagi malah asik main bingo karena nggak mudeng sama sekali sama materinya (yang belakangan ini aku tahu itu materi yang aku dapet di matematika dasar semester I kuliahku).
Temanku itu, dia juga seorang pendengar yang baik. Aku bisa bercerita tentang banyak hal kepadanya. Tentang adik-adikku, tentang kebiasaan, bahkan tentang seseorang yang aku suka. Dia banyak memberi aku masukan dan nasehat-nasehat yang cukup berarti. Sebagai imbalan, aku juga sering mendengarkan cerita tentang dia, adiknya, kebiasaannya, dan seorang muslimah yang memikat hatinya. Kita juga saling memberi motivasi, bahkan sampai sehari sebelum sesuatu yang membuatnya berubah itu terjadi, kita masih saling bercanda.
Tapi, sejak peristiwa itu terjadi, aku seperti sudah kehilangan dia. Peristiwa itu seperti membuat dia terpisah dari kami, teman-temannya. Dingin dan acuh. Itu yang aku tangkap dari kata-kata di SMS darinya waktu aku menanyakan hasil ujian itu. Oke, saat itu aku setuju dengan pikiranku kalau dia sedang terpukul, aku sduah nggak lagi punya keberanian menanyakan hal-hal yang menyangkut masalah itu kepadanya. Sejak saat itu juga, nggak pernah ada SMS selain ucapan selamat ulang tahun, karena aku benar-benar nggak tega untuk memulai percakapan. Aku takut dia tersinggung, aku takut dia semakin merasa sedih dan tidak bersemangat. Sampai setahun berlalu, aku bertanya tentang kesiapannya ikut ujian lagi,cukup terkejut waktu dia bilang tidak akan ikkut ujian itu, tapi mencoba ber-positive thinking kalau dia ikut jalur masuk lain, atau sudah memiliki tempat untuk melanjutkan studinya. Tapi ternyata, aku Cuma berprasangka saja. Dia tidak melanjutkan studinya. Aku benar-benar sedih mengetahui kenyataan itu. Sedih, karena seorang teman terbaikku yang aku kira begitu tegar, ternyata sudah patah arang. Sedih, karena sumber motivasiku sudah tidak punya motivasi terhadap dirinya sendiri. Sedih, karena aku berharap dia tidak pernah seperti itu. Aku merasa semakin kehilangan sosoknya yang dulu, yang menjadi motivasi bagi teman-temannya, yang kami harap menjadi sosok hebat masa depan. Ternyata kalah dengan keadaan.
temanku, aku percaya kamu akan kembali menjadi seperti dulu lagi. kita semua merindukan kamu yang dulu. berjuanglah, temanku! semoga Allah mempermudah jalanmu.