mungkin bagi yang follow akun jejaring sosial ku sudah pada tau tentang apa yang bakal aku tulis ini.
langsung cuss ke ceritanya aja nih ya :)
malem itu sekitar jam 20.30 WIB, aku lagi tiduran sambil liat drama Jepang judulnya Yamato Nadeshiko Shichi Henge dari laptop tanpa earphone *biasanya kalo loat via laptop aku pake earphone dengan volume suara yang nggak memungkinkan aku denger apapun di sekitarku*. tiba-tiba aku denger suara pagar rumah yang diketuk berkali-kali, oke, karena aku lagi di lantai atas dan orang tua sama adekku yang paling kecil ada di bawah, awalnya aku biarin aja, mungkin sudah ada yang denger dan segera dibukain pintu, ternyata setelah beberapa kali pager diketuk dan terus diketuk tanpa ada suara pintu dibuka, aku turun dan ngebukain pintu *yang ternyata sudah dikunci dan digembok plus lampu sudah dimatikan* and what mede me shock was...
"buu.. tolong buu.. saya mau melahirkan.." suara lirih seorang ibu-ibu yang sudah lemah berdiri pegangan di motor, sedangkan suaminya lari dari samping rumah *rupanya setelah gak ada respon, suaminya pergi gedor-gedor pintu samping*. aku yang kaget denger rintihan si ibu langsung lari ke kamar ortu, tanpa ketuk pintu, langsung buka dan teriak "bu, ada orang mau melahirkan!"
sama kagetnya sama aku, ibu langsung keluar..
perlu diketahui sebelumnya, ibuku adalah seorang bidan, beliau kerja di rumah sakit umum provinsi yang ada di Surabaya. di rumah, ibu buka praktik khusus melayani suntik dan pil KB saja, bukan untuk melahirkan. jadi, di rumah nggak ada persediaan benang jahit dan obat-obatan yang diperlukan untuk proses melahirkan.
Ibuku awalnya sempat menolak permintaan pasangan suami istri itu untuk melahirkan bayinya di rumah kami dan merekomendasikan bidan terdekat yang benar-benar buka praktik, tapi karena desakan si ibu yang bilang "tapi ini bayinya sudah mau lahir, buu.. tolong saya buu.." akhirnya ibuku mau menolong mereka. dengan peralatan seadanya yang hanya disterilkan dengan cara dibakar dengan akohol 70%, tanpa sarung tangan lateks, tanpa obat-obatan dan benang untuk menjahit luka, dan dengan segala kepanikan yang terjadi di rumah karena baru pertama kali ada kejadian kayak gini, ibuku mencoba menyelamatkan dua makhluk ciptaan Allah itu.
nggak lama setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah, aku mulai melihat sesuatu keluar dari rahim si ibu, ternyata itu kepalanya si adek bayi, trus nggak lama tali pusarnya keluar, langsung posisi tali pusarnya dibenerin sama ibu *kalo gak gitu si adek gak bisa napas* trus badannya keluar dan akhirnya seluruh tubuhnya keluar dengan selamat.
Alhamdulillah semua selamat. aku teringat adekku almarhumah Wardah yang meninggal ketika mau dilahirkan. mungkin adek nggak seberuntung adek imut yang baru lahir ini. waktu itu adek wardah meninggal karena tali pusarnya keluar lebih dulu, jadi kecepit sama kepala, jadi gak bisa nafas lah adekku itu sampe meninggal. tapi biar gimanapun juga, Allah lah yang lebih tau tentang takdir manusia. Wallahu a'lamu bish-showab :)
Saturday, September 15, 2012
semester tanpa quantum satis
ketika quantum satis sudah tidak cukup lagi menggambarkan banyaknya bahan tambahan dalam sebuah obat, ketika itu juga aku merasa tidak ada lagi kata "secukupnya" dalam hidup yang akan aku jalani di semester baru ini. entah dari sudut pandang apa aku melihat, tapi pintu keputusasaan akhir-akhir ini semakin jelas terlihat oleh mataku. selama ini aku hanya mengandalkan diriku dengan "secukupnya saja" untuk apapun yang aku kerjakan. tapi mulai semester ini segalanya tidak cukup hanya dengan "secukupnya saja" aku harus berbuat lebih, aku harus bekerja lebih, aku harus bisa lebih dari ini.
kadang memang ada ragu dalam diri, mampukah aku melewati jalan yang semakin curam dan terjal di semester ini, kadang ada kata terucap "aku menyerah". tapi, coba pikirkan lagi, jika aku menyerah sekarang, maka apa yang sudah aku dapatkan? jika aku berhenti sekarang, maka apa yang bisa aku perbuat? jika aku menyerah, maka apa yang akan bisa aku lakukan kelak? jika aku mengikuti keinginan hati untuk menyerah, lalu jawaban apa yang bisa kuberi untuk kedua orang tua yang telah lelah bekerja untuk bangku kuliahku ini? jika aku berhenti, lalu apa yang ada di pikiran pihak pemberi beasiswa untukku? tidakkah aku mengecewakan diriku sendiri? tidakkah aku mengecewakan orang-orang di sekitarku? tidakkah aku mengecewakan Tuhan yang menciptakan aku dengan semua kelebihanku? berpikirlah dengan jernih. buang kata "secukupnya" seperti kata "quantum satis" yang telah ditinggalkan oleh mata kuliah farmasetika. semuanya harus diperhitungkan dengan teliti, tidak boleh hanya quantum satis untuk mendapatkan sediaan yang bermutu
lalu bisakah aku melakukan lebih dari sekedar quantum satis? Ya, Aku Bisa! :)
Subscribe to:
Posts (Atom)