Saturday, January 2, 2016

Sepenggal Masa Lalu

"Siapa dia?"
"Sudahlah, kamu tak perlu tahu"
"Tidak, aku perlu tahu, aku harus memastikan orang yang menggantikanku bisa membahagiakanmu. Siapa dia?"

Sepenggal percakapan terakhir sebelum kamu dan aku berpisah.
Terimakasih telah menanyakannya. Sekedar agar kamu tahu, dia bisa, sangat bisa membahagiakan aku, dengan caranya. Memang berbeda dengan caramu dahulu, karena itu lah kalian berbeda. Dan aku bersyukur takdir mempersatukan kembali aku dan dia.
Entah kenapa, malam ini percakapan itu terngiang kembali. Terkenang akan kamu dan masa-masa kita. Maafkan aku, mungkin aku belum bisa memaafkan diri sendiri yang begitu tega mengakhiri masa-masa itu. Maafkan aku, aku hanya terkenang saja, sekedar menengok sejenak ke belakang untuk pelajaran di masa depan. Bagaimana keadaanmu? Semoga segera bertemu dengan penggantiku, yang jauh lebih baik untukmu, yang mengerti dan mencintaimu dengan sepenuh hatinya, yang tak akan meninggalkanmu kecuali maut yang membawanya. Tahukah, aku pun ingin tahu siapa dia, pun sekedar ingin memastikan agar penggantiku tidak akan mengecewakanmu seperti yang kulakukan. Seandainya malaikat bisa membisikkan padaku tentang penggantiku, mungkin aku bisa berdamai dengan rasa bersalahku.