Aku tersenyum sendiri mengingat masa-masa itu. Masa dimana
kita masih belum halal untuk bersama. Tersenyum mengingat betapa cemburu hati
ini melihatmu terlalu dekat dengan teman dekatku. Saat itu aku hanya bisa diam
menatap kedekatan kalian, berusaha untuk tetap tertawa bersama kalian, bersikap
seakan segalanya baik-baik saja. Walau dalam hati ini terbanjiri air mata dan
membara bergejolak, aku saat itu tetap berdoa untuk kebahagiaan kalian. Terlihat
begitu keterlaluan aku mengharapkan agar kebersamaan kita nyata saat itu.
Terlihat begitu egois dan kekanak-kanakan.
Aku kembali tersenyum ketika mengingat bahwa sebenarnya kita
memendam rasa yang sama saat itu, hanya masih terbatasi oleh hijab yang
masing-masing kita buat untuk membentengi diri sendiri. Sehingga tak pernah ada
kata cinta atau rindu yang mampu keluar. Hanya pandangan yang dibuat seakan tak
sengaja, rasa kecewa yang berusaha ditutupi saat melihat kedekatanku dengan
seseorang (dan sebaliknya kamu dengan dia), serta doa-doa kecil yang secara
sembunyi-sembunyi kita panjatkan padaNya saat satu dari kita dirundung duka dan
masalah.
Tahukah kamu? Saat itu aku begitu menyesali perasaan yang
tumbuh dalam hati ini. Lantaran aku telah meminta pada Sang Maha Kasih untuk
menutup rapat hati ini sebelum saat yang tepat itu tiba, namun perasaan ini
menahan hatiku hingga masih menyisakan celah untuknya. Berusaha membunuh rasa
ini hingga nyaris frustasi seiring kedekatanmu dengannya semakin terlihat
menjanjikan. Namun saat ini, aku bersyukur bahwa perasaan ini benar, bahwa
Allah tak menutup hati ini karena sudah datang orang yang tepat, walau saat itu
waktunya belum tepat dan kita masih harus menunggu. Sungguh Allah maha
mengetahui apa-apa yang tak kita ketahui.
-based on true story with writer's addition-