Dulu aku pernah bercita-cita untuk bekerja di Rumah Sakit. Jalan sudah terbuka atas kehendak Allah, aku sudah menyelesaikan studi strata 1 di Fakultas Farmasi. Masih ada dua langkah lagi untuk bisa bekerja di Rumah Sakit, yaitu kuliah profesi dan strata 2 atau program magister. Meskipun pernah berniat membelot dengan keinginan memilih praktik kerja profesi di industri, namun niat masih dapat diluruskan dengan mencoba istiqomah di rumah sakit. Tapi ketika dihadapkan pada pilihan menggiurkan untuk bisa melanjutkan studi di luar negeri dengan jalan menjadi dosen terlebih dahulu, niat yang sudah keukeuh ini perlahan melunak. Aku lebih ingin menjelajah.
Luar negeri adalah tempat dimana aku ingin menjejakkan kakiku agar tercipta sebuah cerita perjalanan panjang dalam hidupku yang tidak hanya kuhabiskan di satu tempat. Dunia ini luas, kawan. Aku tidak ingin dalam hidupku hanya merasakan tanah Indonesia. Aku ingin kaki ini meninggalkan jejak tak terlihat di tempat-tempat yang bermil-mil jauhnya dari rumahku. Aku ini anak rumahan, sejak taman kanak-kanak hingga duduk di bangku kuliah, aku selalu pulang ke rumah, tidak pernah merasakan sulitnya menjadi anak kos, tidak pernah merasakan kerinduan yang begitu hebat terhadap orang tua dan kampung halaman yang dapat membuatku berkata "aku ingin pulang", sebab setiap hari aku selalu pulang. Itulah mengapa aku ingin menjelajahi Luar Negeri, mengetahui seberapa luaskah Luar Negeri itu, memahami seberapa sulit hidup diantara orang-orang yang tidak memahami ucapanmu, merasakan keraskah atau lunakkah salju itu.
Sekarang mungkin masih terlalu dini memikirkan lapangan pekerjaan, tapi aku sudah merasa perlu memikirkannya untuk membangun niat kemana diriku akan kuarahkan. Mengejar karir di Rumah Sakit, atau menjadi dosen yang bisa melanjutkan studi di Luar Negeri?
Thursday, September 4, 2014
Monday, September 1, 2014
Goa Cina - An Unexpected Journey (2)
Perjalanan berlanjut, tapi sebelumnya, bolehlah jembatan khas ini diabadikan, dari mobil saja lah.
perjalanan ke Goa Cina tidak semulus perjalanan sebelumnya. medan yang naik turun dengan kondisi jalan sangat bergelombang. Bahkan berjalan kaki lebih cepat dibanding naik mobil. "ini kenapa ya kok nggak diperbaiki?" "mungkin memang sengaja nggak diperbaiki, biar ada ceritanya, kalo perjalan ke sini ini jalannya jelek banget, tapi kalo sudah sampe perjalanannya terbayar" "hmm bisa jadi"
ternyata memang benar, TERBAYAR!
di sini juga spot yang bagus untuk melakukan foto prewed ala kami
kami bermain di sini sampai puas. Ada Peki yang bermain lulur pelangsing bersama Tegar, dan aku hanya bisa tertawa terpingkal melihat mereka, ada juga Windy dan mas Gupik yang berusaha menata kamera agar berdiri dengan "pas" untuk kami berfoto berlima. Hasilnya:
kemudian kami bermain "kotak pos" sambil berendam hingga matahari terbenam. tentu saja Windy tak akan melewatkan sunset view yang indah ini.
untuk memasuki area pantai goa cina ini dipungut biaya Rp 5000 per orang, sedangkan Rp 7000 untuk biaya parkir mobil.
terimakasih atas hari itu, 30 Agustus 2014. semoga akan ada liburan-liburan yang lain lagi :)
Subscribe to:
Posts (Atom)

