Saturday, September 15, 2012

semester tanpa quantum satis

ketika quantum satis sudah tidak cukup lagi menggambarkan banyaknya bahan tambahan dalam sebuah obat, ketika itu juga aku merasa tidak ada lagi kata "secukupnya" dalam hidup yang akan aku jalani di semester baru ini. entah dari sudut pandang apa aku melihat, tapi pintu keputusasaan akhir-akhir ini semakin jelas terlihat oleh mataku. selama ini aku hanya mengandalkan diriku dengan "secukupnya saja" untuk apapun yang aku kerjakan. tapi mulai semester ini segalanya tidak cukup hanya dengan "secukupnya saja" aku harus berbuat lebih, aku harus bekerja lebih, aku harus bisa lebih dari ini.

kadang memang ada ragu dalam diri, mampukah aku melewati jalan yang semakin curam dan terjal di semester ini, kadang ada kata terucap "aku menyerah". tapi, coba pikirkan lagi, jika aku menyerah sekarang, maka apa yang sudah aku dapatkan? jika aku berhenti sekarang, maka apa yang bisa aku perbuat? jika aku menyerah, maka apa yang akan bisa aku lakukan kelak? jika aku mengikuti keinginan hati untuk menyerah, lalu jawaban apa yang bisa kuberi untuk kedua orang tua yang telah lelah bekerja untuk bangku kuliahku ini? jika aku berhenti, lalu apa yang ada di pikiran pihak pemberi beasiswa untukku? tidakkah aku mengecewakan diriku sendiri? tidakkah aku mengecewakan orang-orang di sekitarku? tidakkah aku mengecewakan Tuhan yang menciptakan aku dengan semua kelebihanku? berpikirlah dengan jernih. buang kata "secukupnya" seperti kata "quantum satis" yang telah ditinggalkan oleh mata kuliah farmasetika. semuanya harus diperhitungkan dengan teliti, tidak boleh hanya quantum satis untuk mendapatkan sediaan yang bermutu

lalu bisakah aku melakukan lebih dari sekedar quantum satis? Ya, Aku Bisa! :)

No comments: