Sunday, June 9, 2013

Aku Tersenyum

Aku tersenyum sendiri mengingat masa-masa itu. Masa dimana kita masih belum halal untuk bersama. Tersenyum mengingat betapa cemburu hati ini melihatmu terlalu dekat dengan teman dekatku. Saat itu aku hanya bisa diam menatap kedekatan kalian, berusaha untuk tetap tertawa bersama kalian, bersikap seakan segalanya baik-baik saja. Walau dalam hati ini terbanjiri air mata dan membara bergejolak, aku saat itu tetap berdoa untuk kebahagiaan kalian. Terlihat begitu keterlaluan aku mengharapkan agar kebersamaan kita nyata saat itu. Terlihat begitu egois dan kekanak-kanakan.

Aku kembali tersenyum ketika mengingat bahwa sebenarnya kita memendam rasa yang sama saat itu, hanya masih terbatasi oleh hijab yang masing-masing kita buat untuk membentengi diri sendiri. Sehingga tak pernah ada kata cinta atau rindu yang mampu keluar. Hanya pandangan yang dibuat seakan tak sengaja, rasa kecewa yang berusaha ditutupi saat melihat kedekatanku dengan seseorang (dan sebaliknya kamu dengan dia), serta doa-doa kecil yang secara sembunyi-sembunyi kita panjatkan padaNya saat satu dari kita dirundung duka dan masalah.

Tahukah kamu? Saat itu aku begitu menyesali perasaan yang tumbuh dalam hati ini. Lantaran aku telah meminta pada Sang Maha Kasih untuk menutup rapat hati ini sebelum saat yang tepat itu tiba, namun perasaan ini menahan hatiku hingga masih menyisakan celah untuknya. Berusaha membunuh rasa ini hingga nyaris frustasi seiring kedekatanmu dengannya semakin terlihat menjanjikan. Namun saat ini, aku bersyukur bahwa perasaan ini benar, bahwa Allah tak menutup hati ini karena sudah datang orang yang tepat, walau saat itu waktunya belum tepat dan kita masih harus menunggu. Sungguh Allah maha mengetahui apa-apa yang tak kita ketahui.

-based on true story with writer's addition-